“GILA, BENER JUGA YA!”

Entah dari mana awal mulanya, tiba-tiba gua menemukan satu halaman, hasil dari penemuan Google. tampilan yang sebenarnya sederhana tapi pemilihan katanya mampu mencuri perhatian gua.

Adalah sinopsis sebuah buku yang menurut bisikan otak gua saaat pertama kali melihatnya, rugi kalo sampe ga di baca. Berjudul “Tetaplah lapar.. teteaplah GILA”, gua baca di  websitenya nulisbuku. Setelah gua baca, gua jadi  -dengan sadar-  berfikir, bahwa ternyata kegilaan itu membutuhkan kesadaran yang bener-bener tinggi..

Tetaplah Lapar, Tetaplah GILA! - By Dyama Khazim & Prama Wiratama

Jika buku ini dirangkum menjadi satu kata, kata itu adalah “GILA”.

Gila bisa berarti sebuah penyakit, jadi sebuah hinaan, bisa juga menjadi sebuah pujian.

Itu tergantung konteks dan penafsiran kita sendiri.

 

Tentang ketergantungan merokok dan masturbasi,

Tentang kesemrawutan kehidupan Jabodetabek,

Tentang korupsi yang membudaya,

Tentang segala hal yang digembor-gemborkan di media.

 

Bukan maksud kami untuk membuat Anda gila seperti kami.

Tapi jika ketika atau setelah membaca buku ini Anda berkata:

“GILA,  BENER JUGA YA!”

 

Artinya kami berhasil mendapatkan satu lagi teman gila.

Sumber : http://nulisbuku.com

Advertisements

Ber -bukan menjadi- Satu

Ini dia, jawaban dari sebuah kebersamaan.. saya meliahtnya dengan bola mata saya sendiri, medengarnya dengan telinga saya sendiri..

sesuatu yang luar bisa.. sulit memang menegaskan bahwa ini nyata, tapi ini bener-bener nyata.

tidak kah kalian ingin melihatnya? ach, emang sebaiknya ga perlu kalian melihat, karena apa yang terjadi hari ini bukan untuk menangkap pengakuan.. bukan berharap adanya kata pujian.

ini hanya cara kecil untuk sama-sama merasakan apa yang saat ini di rasakan oleh satu dari sahabat kami. karena pasti berat melihat satu dari sahabat merasakan penderitaan sementara yang lainnya tertawa ngakak kegirangan.

sekali lagi ini adalah jawaban dari segudang pertanyaan tentang arti sesungguhnya ber-satu… (inget; bukan menjadi satu)

Sejujurnya saya menulis postingan ini sambil merasakan mata yang semakin mengembang dan berkaca-kaca seperti ada air yang akan tumpah, terharu.. melihat sebuah pemandangna indah.. ya, benar – benar indah..

tapi saya cepet tersadar, rasanya tak pantas untuk menagis dengan adanya kejadian ini.. karena idealnya saya harus tersenyum 🙂