Laporan Mingguan 1

Kalo ada orang yang bilang, betapa membosankannya hari senin, mungkin gua akan jadi orang pertama yang mengaminkannya, setidaknya utk hari senin ini. (1 februari 2016) semoga tidak di senin-senin yang akan datang.

Kenapa ga jadi bosan, kalo sepanjang hari ini tidak ada yang di kerjakan. Satu”nya kerjaan yang gua bisa lakuin cuma membuat laporan kerja mingguan.

Masih untung sih ya. Masi ada yang dikerjain, Meski cuma laporan.

tapi ternyata ya, bikin laporan kerja itu ga mudah men.. serius. Kedengerannya emang sepele. Tp buat gua, Ā ini bukanlah sebuah pkerjaan yang mudah.

Bayangin, gua uda mulai nulis nih, terus gua hapus. Ini gua lakuin sampe 3 kali. Pertama gua buat di software Indesign, ini aseli gagal dengan sempurna. Terus gua coba di microsoft word, hasilnya ga lebih menyenangkan dari percobaan pertama, jd gua putuskan buat ga nerusin kerjaan sepele yang sebenernya penting ini. Percobaan selanjutnya, menggunakan google doc, lagi-lagi prosesnya ga semulus yang gua bayangin, malah jd dobel ribed. Akhirnya gua kembali ke Indesign dan sebisa mungkin untuk segera membuatnya, sekenanya. Tanpa di duga gua berhasil menyelesaikan dalam tempo yang sesingkat singkatnya.

taraaaaa.. :p

Oke, gua emang berhasil membuat laporan kerja mingguan gua yang pertama ini, tp hasilnya….. entahlah. Toh yang tepenting adalah mencoba, bukankah dengan mencoba kita akan jadi terbiasa.. *ceritanya lagi waras*

Jadi hasilnya gimana?

Hasilnya, ga memuaskan kayanya. Ternyata nih ya. Selain banyak bahasa yang ga sesuai dengan EYD, banyak juga typonya. Ironisnya, satu dari (mungkin) puluhan atau bahkan ratusan typo lainnya ada di penulisan tanggal yang posisinya di urutan paling atas. Huuuuuuu *lempar pake sendal*

Kara orang bijak, belajarlah dr kesalahan, karena kesalahan adalah guru, ini kaitanya apa ya? Tau deh, hihi..

Hikmahnya, gua berhasil membuang jauh-jauh predikat #MakanGajiButa, dan lumayan jadi punya bahan buat ngeblog di tengah kebingungan apa yang bisa gua kerjain hari ini.

Advertisements

kea[ja]iban terencana

Rencana kerja gua hari ini adalah: MEMBUAT LAPORAN KERJA HARI KEMARIN, šŸ™‚

28 januari 2016 (bold, garis bawah)

Kemarin gua lupa nulis laporan harian. Mungkin karena lelah jd bawaannya pengen buru-buru pulang. Hihi..

Kerjaan sih ga banyak-banyak amat, gua dateng rada pagi, sekitar jam 9 pagi kemarin gua uda sampe kantor.

Fakta: dengan dateng lebih awal itu berarti jam tidur gua sedikit terenggut.

Efek: tingkat kegantengan gua bertambah hingga 25%.. *udah jelek mah jelek aja kali* ya deh, anggap aja tulisan itu ga ada. Lanjut ya, ini seriusan, efeknya kadar ngantuk gua jadi drastis bertambah level dari hari hari biasanya. Dahsyat gilaaaaa…

Kembali ke soal pekerjaan, kemarin gua cuma menghadiri undangan meeting aja.

  1. Meeting Insertion Catalog bareng Mas Adit dan Mita, keduanya 1 team dengan gua di Design, dengan teman-teman dari divisi merchendising dan marketing, pembahasannya seputar perencanaan produksi: menentukan talent untuk cover, artikel, alokasi rubrik/kategori dan jumlah produk yang akan di masukan dalam insertion catalog nanti.
  2. Meeting dengan pihak External, Percetakan Wahana Ajitama, calon vendor untuk mencetak insertion catalog yang gua ceritain di point 1 tadi. Point 2 ini berkaitan dengan judul tulisan ini, kanapa? tanpa sedikitpun punya perasaan dosa dan tanpa memikirkan kegantengan gua akan berkurang, dengan santainya gua jalan dari meja kerja gua menuju ruag meeting yang telah ditentukan. Sumpah, gua bener-bener ga sadar kalau pada saat itu gua gak pake sepatu, gua cuma pake sendal jepit lusuh berwarna (dulu) biru, yang saat gua pake kemaren berubah jadi kecoklatan. Baru nyadar ketika teman gua manggil, dan nyuruh gua pake sepatu, karena menurut beliau gua akan meeting dengan pihak luar.. o ow, tiba” gua bengong, sambil mulut nganga, *ya ampun said untung aja ga di kerubungin laler tuh mulut*, dengan sangat pelan gua bilang ke temen gua, “yah gua ga bawa sepatu mas”. Gubrakk *seketika hening*, ya udah lanjut deh. Jawab temen gual. Sebuah ke a[ja]iban yang sangat terencana. Dan jadilah gua meeting dengan pihal luar kantor hanya dengan menggunakan sendal jepit. #maafkanSaya
  3. Kerjaan berikutnya meresize sekaligus merubah format file semua foto produk yang ada di katalok bulan februari menjadi format PNG lowres. Kerjaan yang santai tapi lumayan butuh sedikit ketelitian. Kerjaan ini merupukan kerjaan penutup hari kamis kemaren, bahkan gua tinggal makan bubur depan kantor sebelum tuh kerjaan rampung. Dan saat ini. (jumat, 29 jan 16) gua masih lanjutin kerjaan itu.

Apa Rasanya

Gua seperti baru saja bangkit dari alam bawah sadar, dan benar benar engeh kalau Indonesia itu bukanlah sebuah negara yang miskin, gimana coba mau dibilang miskin kalo secangkir teh tawar panas aja dijual seharga 17.500 rupiah. Udah mahal ga ada spesialnya pula, ga ada bedanya dengan the kebanyakan yg beredar di Indonesia. Mahal kan? Mahal gila, dan ajaibnya laku dan banyak yg pesen, banyak men yg beli.

Kejadiannya beberapa waktu lalu saat gua ketemuan sama temen gua di salah satu gerai donat di bilangan jakarta timur. Untungnya sih gua ga bayar sendiri, bahasa kerennya gua di traktir, heheheeh.. kalo bukan karena gratisan, udah bisa dipsatiin gua bakal buru buru cancel tuh pesenan dan lebih milih beli kopi di abang abang sepeda.. :d

Serius itu di luar nalar gua. Ga nyangka aja. Kalo harga secangkir teh semahal itu, ini sama halnya dengan gua yang ga nyangka gimana rasanya seharian ga dapet kabar dari si dia. Bikin bingung, pastinya bikin hari seperti ga sempurna, seakan ada yg kurang didalamnya. Persis banget sama rasa the yg hanrganya selangit itu. Hambar pake bgt.

Apa kabar ya dia?.. Sedang apa?, apa dia lagi melepas lelah sambil meninkmati secangkir teh panas.. Aahh semoga sih seperti halnya gua yg sedang mengingatnya, dia jg mengingat gua.

Kamu

Terima kasih atas segala yg tercurah.. Atas segala doa, dan hadiah besar yang pernah aku dapat.

Ya, buat ku tulisan itu melebihi dari hadiah apapun, tak tertandingi.. Merupakan Sesuatu yang luar biasa.

Dan jujur itu di luar dugaan.. šŸ™‚

***

Adalah kamu yang membuat hari hari ini menjadi begitu berisi dan bermakna.
Adalah kamu yang menambal celah kekurangan diri ini menjelma menjadi sebuah permaata.
Adalah kamu yang memberi kedamaian kala lelah di sudut senja
Dan adalah kamu yang membuat aku menjadi diriku sendiri, hal yang sulit aku dapat bahkan ketika aku sendiri

***

Berharap segala kebaikan menghampiri tiap hembus nafas kita, memberi kesejukan pada tiap detak jarum jam, memberi ketenangan pada tiap langkah… Semoga

Dalam Diam

Gua pikir hari ini gua akan mendapatkan kebahagian.. Halaaah ternyata perkiraan gua jauh meleset.. bukan kebahagian justru malah murung yang menghampiri di penghujung siang ini. Yang jelas ini bukan salah siapa- siapa, ini sepenuhnya ketololan gua sendiri, karena kelewat percaya diri, terlalu bangga dengan apa yang sudah gua lakuin, padahal apa yang gua lakuin sesungguhnya belum tentu baik bagi orang lain yang menilainya.

ini serius…

Kepercayaan gua terlalu besar, mungkin melebihi dari yang seharusnya, berfikir bahwa gua ga akan pernah pernah menuntut timbal balik dari apa yg gua lakuin, sederhananya gua ga pernah berfikir untuk mendapatkan imbalan dari keloyalan gua berbuat sesuatu. padahal orang lain di sekitar gua belum tentu berfikir sama dengan apa yg gua fikirin.

Dalam kondisi normal menurut gua sih prinsip ini baik, sayangnya dalam beberapa moment ini menjadi bomeerang tersendiri buat gua. Kenapa gua bilang gitu?, karena dalam kondisi tertentu tiap orang mengalami tekanan dan kondisi yang mungkin berbeda, jadi wajar kalo akhirnya datang sebuah anggapan dimana apa yg gua lakuin ini tak begitu berguna.

Barangkali ada baiknya kalo gua memilih untuk berdiam diri. gua percaya kalo “diam adalah marah yang paling baik” dan sesegera mungkin membuka lapisan otak, lalu membuka sebuah coretan yang terselip danterbenam di dalamnya, catatan yang mengatakan bahwa “Petaka adalah ketika kita berfikir bahwa orang lain memiliki pemikiran yang sama dengan apa yang sedang kita pikirkan”, Lantas meremahnya dan segera menelannya.

Ya.. dengan begitu mungkin akan ada sebuah harapan dimana sebuah kata yang sederhana akan terlontar dari dalam hati gua yang terdalam, sebuah kata bertuliskan MAAF yang keluar dari dalam hati ini, yang benar – benar tulus. Semoga

Banjar Baru Rintis Kota Layak Anak

Pemerintah Daerah Kota Banjarbaru melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP & KB) Kota Banjar Baru, Kalimantan selatan bersinergi dengan masyarakat Kota Banjarbaru, melalui forum RT dan dunia usaha telah bekerja sama mendukung terwujudnya kelurahan yang ramah anak. Langkas sebagai upaya menjadikan Kota Banjarbaru menjadi Kota Layak Ā Anak (KLA). Niatan baik pemerintah Banjar baru ini, selaras dengan program yang dicanangkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan AnakĀ  melalui Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 11 Tahun 2012 tentang Kebijakan Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak. Salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk melindungi hak anak, agar anak dapat hidup, tumbuh dan berkembangĀ  secara optimal serta terlindungi dari berbagai kekerasan dan diskriminasi.

Banjarbaru merupakan satu dari empat kabupaten/kota mewakili Kalimantan selatan yang di tunjuk sebagai daerah rintisan pengembangan KLA selain Balaman, Banjar Masin, dan Tanah Laut (Tala). Program ini tak lepas karena dalam perkembangannya, anak sangat memerlukan perhatian dari semua pihak. Olehkarenanya, dibuatkah kesepakatan bersamaĀ  dengan pemerintah provinsi, kabupaten/ kota yang dihadiri oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar dalam usaha merintis pengembangan Kota Layak di Kalimantan Selatan. Continue reading

Kanvas Lukis Itu Bernama Kulit Kayu

Melukis di atas kulit kayu yang dibuat dari pohon khombouw yang hanya hidup di hutan belantara tanah Papua bukanlah pekerjaan mudah. Simak bagaimana seorang perempuan bernama Martha Ohe berjuang untuk melestarikan budaya kerajinan lukisan kulit kayu yang merupakan kerajinan khas Pulai Asei Besar, Jayapura, Papua.

Ā 

Jauh dari hingar bingar serta kesibukan kota, tidak menyurutkan sebagian warga yang mendiami Pulau Asei Besar untuk terus mengembangkan potensi dalam diri masyarakatnya yang di dapatkan selama turun temurun. Melukis di atas media kulit kayu, merupakan warisan budaya yang hingga kini tetap terlestarikan. Memanfaatkan kearifan alam serta kemajukan penduduk lokal, meski dalam keterbtasan membuat masyarakatnya lebih mampu membuat hasil karya yang tidak hanya terbilang baik, tetapi juga unik.

Adalah Martha Ohe, perempuan aseli tanah Papua yang memiliki keinginan kuat untuk mempertahankan warisan budaya nenek moyangnya. Namun, Ā keinginan yang kuat ternyata tidaklah cukup. Niatan baik dari seorang ibu yang memilik 1 orang anak perempuan ini tidak berjalan mulus. Bahkan di tentang oleh adat karena terdapat mitologi yang yang mengatakan bahwa melukis diatas kulit kayu hanya boleh dikerjakan oleh laki-laki saja. karena diyakini bahwa jika dikerjakan oleh perempuan, maka akan terkena penyakit. Namun seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 80-an sudah ada persetujuan orang tua ā€“ orang yg dituakan dalam masyarakat adat- yang memperbolehkan kaum perempuan melukis diatas kulit kayu. Continue reading