Entah Sampai Kapan??? (my opinion)

Selamat sore semua.. Selamat berakhir pekan🙂

Postingan kali ini mungkin sedikit agak serius dari tulisan-tulisan sebelumnya. Sori.. sori… sori Jak… jangan remehkan aku.. *lho. Ko malah nyanyi dangdut. Hehe… Intinya maaf bangat sebelumnya buat yang biasa kemari buat baca sambil senyum seyum, ketawa-ketiwi hahaha… postingan kali agak bener dan sedikit keren, *uweeee..

Kayanya, ga tahan untuk ga ngungkapin kedongkolan sama berita-berita di TV, dan media lainnya. Yup berita-berita yang akhirnya sukses membuat gua berhenti dari kerja (yang sebenernya), dan membawa gua untuk duduk manis buat ngetik, dan mencoba memberi komentar dari persfektif otak gua yang berantakan.. weww.

Gua emang jarang bangat berkomentar tentang pertunjukan yang kini sedang dipertontonkan oleh para petinggi di negeri ini, bisa jadi karena gua terlanjur males sama –apapun- yang berbau politik rusuh dan perang merebut tahta kekuasaan.

Bukan ga mau tau, gua juga bukan orang yang apatis, di dompet gua terselip kertas warna biru gradasi bergambar peta Indonesia, dengan logo Garuda di kiri atasnya (KTP). Dan yang paling penting sebenernya gua tetep ikutin perkembangan berita-berita yang ada. (buktinya, sekarang gua mau nulis). Gua Cuma malas sama dagelan-dagelan politik yang terjadi di Negeri kita ini.

Dan kali ini, gua bukan mau ngebahas soal reshuffle menteri, bukan juga soal Nazarudin yang kini ga jelas juntrungannya, atau menyoal perbaikan regulasi pendanaan parpol. Gua pengen ngebahas tentang kisruh Liga Sepak bola yang terjadi hingga saat ini, terutama yang berkaitan dengan masalah Liga, Karena apa? Segala sesuatu tentang Liga sepak bola di Indonesia sangat berkaitan dengan club kebanggan gua PERSIJA.

Soal Persija yang di bikin menggantung oleh PSSI ada di tulisan gua sebelumnya. Oke.. sekarang balik ke soal PSSI yang (setidaknya menurut gua) di isi oleh orang-orang yang pintar tapi “bejad”. Jago ngomong, berkicau blablabla, lalu rapat yang ngabisiin dana em-eman tanpa ada hasil yang jelas. Hey bro, kita mau ngebangun sepak bola, apa mao tenar dan di bilang pahlawan sama masyarakat?, toh kalo di Tanya ke semua orang, mereka yang tinggal di paling ujung negeri ini juga tau kalo ujung-ujungnya Cuma buat kekuasaan dan duit.. SAMPAHHHH !!!

Masih inget? bagaimana dulu mereka gencar bangat mengkritik era kepemimpianan Nurdin Halid, dengan berbagai cara, salah satunya soal APBD. Gua bukan mao ngebela NH atas keksuasaanya dulu. Cuma heran aja, kenapa justru sekarang ini kondisinya menjadi lebih parah dari yang dulu. Dan kenapa segala sesuatu yang sudah dan berjalan baik, tidak diperbaiki saja kekurangannya. Kepengurusan boleh berganti, tapi bukan berarti harus ganti kompetisi dan memulainya dari nol lagi, kalo begini ceritanya, sampai kapanpun persepakbolaan kita akan jalan di tempat.

Dalih yang digembor-gemborkan bahwa Arifin Pandigoro lebih diatas segalanya, karena mampu menciptakan kompetisi yang katanya lebih professional, nyatanya ga lebih dari seekor kucing yang ngorek-gorek pasir untuk buang kotorannya. Anjriitttt..

Dulu sering bangat kita denger ungkapan (yang dijadikan senjata murahan) bahwa sepakbola kita akan maju, kalo di kelola secara professional tanpa campur tangan APBD. Faktanya; LPI abasurd, selesai tanpa ada pemenang, ga jelas ujungnya, dan jsutru malah mewariskan hutang segede-gede gaban ke club peserta liga premature itu. Ujung-ujungnya, malah mengerecoki klub ISL, yang sebelumnya sama sekali ga terikat dengan IPL.

Bahasanya mah keren, Indonesia Primer League 2011-2012, jumlah klub peserta lebih banyak dari liga-liga di negara eropa yang maksimal peserta liga sebanyak 20 klub. Lalu kenapa di sini menjadi 24 klub dari semula yang hanya 18 klub. Lalu darimana datangnya peserta yang berjumlah 6 club. Heraann???, sama, gua juga. Padahal untuk bisa mengikuti kompetisi tahta tertinggi, sama halnya seperti siswa yang harus mengikuti ujian terlebih dahulu sebelum naik kelas. Artinya PSSI tidak menghargai klub yang berjuang dari bawah, dan justru mementingkan klub-klub yang dulu berlaga di LPI. Bisa yaaa?? UUD (Ujung-ujungnya duit)

Konon, Liga Prima Indonesia yang dikelola PT Liga Prima Sportindo itu, 70% saham di kuasai oleh Djohar Arifin-Farid Rahman pribadi. Sedangkan Club hanya mendapatkan 30%. Menurut Ketua Komite Kompetisi Sihar Sitorus (dikutip dari kompas.net),  pembagian saham model ini hanya bersifat sementara. “Kondisi ini hanya berlangsung selama empat tahun, setelah itu klub menikmati keuntungan penuh dari kompetisi,” ujar Sihar (Sumber Bola). Artinya selama Pak Djohan Arifin-Farid Rahman menguasai PSSI, klub yang bersusah payah berkompetisi hanya menikmati keuntungan 30%. Seandainya Pak Djohar Arifin-Farid Rahman hanya bertahan satu periode dan sistem kompetisi dirubah lagi oleh pengurus baru. Kapan klub akan menikmati keuntungan sepenuhnya.

Gua berfikir bahwa curat marutnya sepakbola Indonesa sekarang bukanlah soal bagaimana memajukan sepakbola di Indonesia. Kemelut yang terjadi adalah penyakit kronis yang sejak lama tumbuh di negeri ini. Terlalu banyak orang-orang yang masuk hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

 Tanpa mereka (red: para pengurus) mengubur dalam dalam kepentingan pribadi, dan terus saja mengedepankan kepentingannya sendiri-sendiri, tanpa mau merangkul dan bekerja sama dengan klub-klub yang ada, rasanya ko gua  pesimis ya, untuk bilang bahwa persepakbolaan Indonesia akan maju. Entah mau sampai kapan??

One thought on “Entah Sampai Kapan??? (my opinion)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s