Kegilaan itu Berada di Dalam Kantor

Kali ini gua mao berbagi kisah segala yang berhungan dengan kantor gua. Banyak hal yang sebenernya menarik buat di ceritain, tapi entah kenapa gua baru nyadar sekarang. Padahal kantor udah seperti rumah ke-dua buat gua. Kalo di tanya kenapa bisa?.. ya bisa lah, disini gua bisa nginep tanpa pulang berhari-hari, malem begadang baru tidur pagi, otomatis bangun jadi siang.  Dan cuma kantor ini yang bikin badan gua jadi lumutan.. 😀

Mulai saat ini, mungkin gua akan lebih sering cerita kejadian – kejadian di kantor gua ini.

Oh ya, di kantor ini juga yang bikin gua punya kesempatan buat ngeblog, dan jadi begitu akrab sama nasi gila, soto ceker, dan terakhir soto ranjau. Continue reading

Advertisements

“GILA, BENER JUGA YA!”

Entah dari mana awal mulanya, tiba-tiba gua menemukan satu halaman, hasil dari penemuan Google. tampilan yang sebenarnya sederhana tapi pemilihan katanya mampu mencuri perhatian gua.

Adalah sinopsis sebuah buku yang menurut bisikan otak gua saaat pertama kali melihatnya, rugi kalo sampe ga di baca. Berjudul “Tetaplah lapar.. teteaplah GILA”, gua baca di  websitenya nulisbuku. Setelah gua baca, gua jadi  -dengan sadar-  berfikir, bahwa ternyata kegilaan itu membutuhkan kesadaran yang bener-bener tinggi..

Tetaplah Lapar, Tetaplah GILA! - By Dyama Khazim & Prama Wiratama

Jika buku ini dirangkum menjadi satu kata, kata itu adalah “GILA”.

Gila bisa berarti sebuah penyakit, jadi sebuah hinaan, bisa juga menjadi sebuah pujian.

Itu tergantung konteks dan penafsiran kita sendiri.

 

Tentang ketergantungan merokok dan masturbasi,

Tentang kesemrawutan kehidupan Jabodetabek,

Tentang korupsi yang membudaya,

Tentang segala hal yang digembor-gemborkan di media.

 

Bukan maksud kami untuk membuat Anda gila seperti kami.

Tapi jika ketika atau setelah membaca buku ini Anda berkata:

“GILA,  BENER JUGA YA!”

 

Artinya kami berhasil mendapatkan satu lagi teman gila.

Sumber : http://nulisbuku.com